KALAU ANDA DIKUNTIT. Jangan panik, Hany punya jurus untuk menghadapi.
TURUT MENGUNDANG BOLEH DONG. Tentang pernikahan mereka.
MISOLOGI & MISOSOLOGI. Kalau misology, ada di sini. Sedangkan missosology, ada di sini. Mana yang lebih menghibur dan perlu?
MATIKAN TV! Hari tanpa TV, Minggu 23 Juli besok. Demi anak-anak, katanya.
CERITA GEMPA & TSUNAMI. Pakdhe Rovicky, sang geolog, bisa bercerita banyak...
             
             


Kéré Kêmplu, seorang opas tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tiada mengenal tenggat. Berisi tulisan dangkal, naif, dan membingungkan.




Hit Counter
Hit Counter






JAGAT GOMBAL

  • Tentang saya
  • 6 Alasan ngeblog
  • 4 Alasan gerakan nonblog
  • Gombalabel: bualan seorang pemulung
  • Gombalkartu: dari seseorang yang tidak bisa bermain remi



    KETERSANGKUTAN

  • Pengumpan Sindikasi
  • IndoBlogdrivers
  • Planet Terasi
  • Blogfam
  • Padhang Mbulan
  • Lesehan



    Subscribe with Bloglines








    KABAR BUNGKUSAN

    AKHIRNYA HAMIL | Ternyata ada hubungan antara bungkus roti dan kehamilan. Bermula dari mana, berujung di mana pula? Lihatlah kisahnya.



    KABAR KOCOKAN

    SISA EKSPOR | Bukan cuma pakaian ekspor yang bisa kita beli. Kartu remi ekspor pun begitu. Made in Indonesia, untuk pasar Amerika. Harga eceran US$ 1,75. Kartu lucu dengan gaya coretan tangan.





    powered by FreeFind





    Free Shoutbox







  • If you want to be updated on this weblog Enter your email here:

     
    21.2.06 | 22:54
    Word Lebih Jahat daripada Photoshop!
    Dengan pengetikan maka peluang kesalahan, bahkan ketidakjujuran berita, menjadi lebih besar.
    nggak usah dibaca! TEMAN saya yang satu itu memang lucu. Bukan cuma karena bermarga Batak tetapi dialeknya Semarangan. Cara menjawab masalah pun seringkali kocak. Maka keluarlah jawaban tangkas ini: "Kalau ngomong jahat-jahatan, [Microsoft] Word lebih jahat daripada [Adobe] Photoshop!"

    Teman saya itu seorang fotografer. Karya-karyanya bagus, yang terakhir itu dibukukan terbatas, semuanya hitam-putih [untuk tim saya adalah edisi ke-484 dari 2.500 eksemplar], diluncurkan pertama kali di London, lalu dipamerkan di Klub Bimasena, tempat mewah orang-orang minyak [selain pendorong gerobak "nyaaaakkk!"], Jakarta, bulan lalu.

    "Bagi saya, fotografi adalah cara bercerita. Cara saya melihat sesuatu, cara saya merasakan nilai-nilai di dalamnya...," tuturnya dalam buku.

    Sebagai Mat Kodak* hari gini, dia juga akrab dengan digital imaging. Memotret dengan kamera digital, mengolah dan mengelola jepretan dengan komputer.

    Nah, ketika olah digital diterapkan ke dalam foto jurnalistik, di manakah batas kejujuran? Ini pertanyaan gampang dengan jawaban yang mengundang debat sampai pagi.

    buku dan undangan: siapakah si fografer itu? Jawaban menggampangkan versi saya [yang amat debatable]: sepanjang pengolahan di kamar terang [komputer] cuma menirukan teknik dasar kamar gelap, seperti cropping, pengaburan/penajaman, kontras maupun gelap-terang, dan pemuatannya sesuai konteks peristiwa, maka hal itu bukan soal. Menggabungkan obyek, mengubah arah bayangan, dan keterampilan berlebih lainnya [istilah netral: "manipulasi", dari "manus" dan "pulatus", adalah "keterampilan tangan"], itu layak dipersoalkan.

    Terhadap pertanyaan macam ini, dalam suatu forum, teman saya itu punya jawaban bagus: semuanya berawal dari niat kita. Dia bilang, tanpa manipulasi kamar gelap sekalipun, pemilihan sudut bidik bisa merugikan sumber berita.

    Dia contohkan, dulu dirinya pernah memotret Soerjadi PDI [tanpa P] sedang berkampanye di lapangan. Dia memotret seteru Megawati itu dari belakang, di atas pentas. Jika membidik dari ujung satu, tampaklah Pak Soer punya massa. Tapi dari ujung lain, tampaklah lapangan melompong.

    "Kalau Anda pro-Soerjadi, akan ngambil angle dia punya massa, dan sebaliknya kalau Anda anti-Soerjadi," begitu kira-kira ia bertamsil [bukan kutipan persis sih]. Nah, karena foto jurnalistik harus jujur, maka dia mengambil sudut yang memungkinkan tangkapan suasana lebih adil.

    Dari situlah muncul ungkapannya, soal "jahat-jahatan" dalam jurnalistik. Dengan Word, katanya, jurnalis lebih mudah melakukan ketidakjujuran.

    Haha! Datang meliput saja bisa salah melaporkan, apalagi jika tak datang tapi mengaku meliput langsung, serial pula. Pernah dengar kasus blablabla, blobloblo, dan bliblibli? Bertahun-tahun berlalu tapi masih saja dipersoalkan. Udah ah! Nggak baik bergunjing.

    *) istilah ini meminjam dari Pak Ed Zoelverdi

    Mariskova
    February 24, 2006   06:48 PM PST
     
    OOT nih Om,
    mo minta info.
    Familiar dng Canon Eos Rebel gak?
    nona cyan
    February 24, 2006   02:46 AM PST
     
    MEMANG!!
    WORD lebih SADEESS dari pada photo shop!
    mpokb
    February 22, 2006   03:17 PM PST
     
    salah melaporkan, terus diplintir pulak. terus tiap hari ada ralat.. :D
    dinda
    February 22, 2006   10:45 AM PST
     
    menurut aku, semuanya emang dari niat.

    misalnya, kalo orang percetakan itu emang bener-bener niat mau ngebukuin foto ARB, pasti jadinya gak seperti buku sekarang. pasti banyak foto2 dahsyat ARB lain yang keluar. covernya-pun tak 'standar' seperti borobudur :D

    btw, saya jujur nih, saya mau niat nge-link blog asik ini ke blog saya yang gak penting itu. boleh nggak pak?
    budibadabadu
    February 22, 2006   08:19 AM PST
     
    kalo Arbain Rambey bikin pameran di Timbuktu, saya pasti datang Mas, mungkin bareng Donal. :)
    Hedi
    February 22, 2006   12:12 AM PST
     
    iya pakde, kalo mau ga jujur ga usah nunggu di Word...hehe
    |


    Leave a Comment:

    Name


    Homepage (optional)


    Comments




    Previous Entry * Home * Next Entry
                 
    © Kéré Kêmplu + BloGombal | Desain sembarangan oleh Masé, Oktober 2005.
    Mohon maaf kepada semua pemilik hak atas karya, dalam bentuk apapun, yang miliknya terangkut ke sini tanpa saya mintai izin dan atau terlewat dalam penyebutan sumber. Jikalau hak Anda terlanggar sudilah memberitahu saya.
                 

    Blogdrive