KALAU ANDA DIKUNTIT. Jangan panik, Hany punya jurus untuk menghadapi.
TURUT MENGUNDANG BOLEH DONG. Tentang pernikahan mereka.
MISOLOGI & MISOSOLOGI. Kalau misology, ada di sini. Sedangkan missosology, ada di sini. Mana yang lebih menghibur dan perlu?
MATIKAN TV! Hari tanpa TV, Minggu 23 Juli besok. Demi anak-anak, katanya.
CERITA GEMPA & TSUNAMI. Pakdhe Rovicky, sang geolog, bisa bercerita banyak...
             
             


Kéré Kêmplu, seorang opas tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tiada mengenal tenggat. Berisi tulisan dangkal, naif, dan membingungkan.




Hit Counter
Hit Counter






JAGAT GOMBAL

  • Tentang saya
  • 6 Alasan ngeblog
  • 4 Alasan gerakan nonblog
  • Gombalabel: bualan seorang pemulung
  • Gombalkartu: dari seseorang yang tidak bisa bermain remi



    KETERSANGKUTAN

  • Pengumpan Sindikasi
  • IndoBlogdrivers
  • Planet Terasi
  • Blogfam
  • Padhang Mbulan
  • Lesehan



    Subscribe with Bloglines








    KABAR BUNGKUSAN

    AKHIRNYA HAMIL | Ternyata ada hubungan antara bungkus roti dan kehamilan. Bermula dari mana, berujung di mana pula? Lihatlah kisahnya.



    KABAR KOCOKAN

    SISA EKSPOR | Bukan cuma pakaian ekspor yang bisa kita beli. Kartu remi ekspor pun begitu. Made in Indonesia, untuk pasar Amerika. Harga eceran US$ 1,75. Kartu lucu dengan gaya coretan tangan.





    powered by FreeFind





    Free Shoutbox







  • If you want to be updated on this weblog Enter your email here:

     
    7.4.06 | 12:24
    Kamera Kuaci, si Kecil Teman Ngeblog
    Sebuah bualan panjang dengan tip gombal. Biarin...
    ADA dua perkara yang harus saya jelaskan dulu. Pertama: bukan kamera dalam gambar ini yang sering saya pakai untuk ngeblog. Kedua: saya bukan fotografer. Kamera Olympus C370 zoom itu cuma contoh barang yang bulan lalu dibanting harganya oleh klikbca, dari Rp 1,5 juta menjadi Rp 1 juta — mestinya sih bisa lebih rendah. Lalu soal lainnya?

    Karena saya nggak ngerti fotografi, maka di mata orang yang pinter motret, macam Paman Patih Blonthank dan Pak Erwin Dede Nugroho, foto saya banyak yang salah [fokus, komposisi, sudut bidik, pencahayaan, warna, dslb]. Jelas? Oke, lanjut.

    Saya cuma mau bagi cerita bahwa kamera digital saku otofokus, yang termurah sekalipun, sehingga ada yang menyebutnya kamera kuaci, sudah memadai untuk ngeblog. Setidaknya menurut kegombalan saya.

  • ENTENG, PRAKTIS. Namanya juga kamera saku kompak, maka bisa masuk kantong. Maksud saya kantong celana kargo atau jaket. Tidak mengganggu mobilitas.
  • AKRAB. Kamera kuaci berkesan main-main, sehingga bagi orang sekitar dianggap tak seserius kamera SLR. Kamera saku tak terlalu mendatangkan ancaman seperti halnya SLR yang menimbukan kesan Anda fotografer atau... wartawan. Ingat, seringkali kehadiran wartawan tak diharapkan oleh lingkungan tertentu pada saat tertentu.

  • Lantas bagaimana penggunaannya? Ya tinggal jepret. Beres. Nah, saya punya sejumlah cara, yang belum tentu benar, tapi sejauh ini nyaman.

  • UKURAN KECIL, IRIT MEMORI. Saya memotret bukan untuk dicetak, dan ketika muncul sebagai ilustrasi [sic!] tulisan di web ukurannya sudah diperkecil supaya tak memberatkan akses. Maka saya pakai ukuran 1024 x 768 bahkan kadang 640 x 480. Gambar kecil juga mengirit ruang kartu memori dan nantinya hard disk.
  • PAMER UNTUK PDKT. LCD bukan cuma buat kepentingan saya, melainkan [kadang] juga orang yang terfoto. Tunjukkan hasil jepretan awal kepada mereka supaya mereka senang dan nyaman. Jepretan selanjutnya aman. Penjual kopi Pasar Cikini saya dekati dengan cara itu. Jika Anda punya bakat culas dan licik, maka kepada Pak Satpam tunjukkan jepretan yang aman [misalnya sudut gedung] atau dia lagi berposisi sigap sempurna, tapi foto Pak Satpam tertidur dengan mulut ngowoh Anda skip saja.
  • BATASI PENGGUNAAN BLITZ. Tentu sepanjang memungkinkan. Kenapa? Pertama: supaya tak mengganggu suasana. Kedua: untuk menghemat baterai. Ketiga: memberikan hasil natural — available light itu kadang lebih bagus. Memang, dalam cahaya rendah, dan Anda tak sempat mendongkrak ISO untuk menaikkan kecepatan rana, ada risiko gambar blur karena kamera goyang. Beruntunglah jika kamera saku Anda sudah memiliki image stabilizer untuk meminimalkan goyang.
  • TANPA TRIPOD? Jawabannya bukan "Pakai saja monopod." Untuk mengurangi goyang saya menumpangkan kamera pada meja, pagar, benda keras lainnya. Kadang saya menjadikan tembok atau permukaan vertikal lainnya sebagai image stabilizer dengan menempelkan bodi kamera ke situ. Hanya fotografer dan sniper Kopassus, juga suhu kungfu dan penari, yang bisa melakukan gerakan lembut dalam menjepret tanpa goyang pada kecepatan di bawah 1/30 detik.
  • INGAT TEMPAT. Tak semua tempat aman buat memotret kecuali Anda sudah diterima oleh lingkungan itu. Di Pasar Pancoran, dekat Gloria, Glodok, Jakarta Barat, itu kadang digelar judi di bawah tenda, siang hari, dengan taruhan ratusan ribu rupiah per orang. Jika centeng menggebuki Anda lantaran kepergok memotret, jangan harap hansip dan polisi setempat akan melindungi Anda.

  • O, gitu? Ya. Gampang kan? Bahwa foto kita akhirnya dianggap jelek oleh fotografer, ya santai sajalah. Teman saya pernah bilang, menilai hasil foto itu nggak ada matematikanya. Teman saya satunya lagi, kalau ngomongin foto, malah semaunya. Nah, buat saya, yang penting kita hepi. Eits, nanti dulu! Bagaimana kalau orang lain nggak hepi? Aha, ini dia! Ada ranjau lho.

  • PELANGGARAN PRIVASI. Ada kemungkinan publikasi jepretan Anda, apalagi bukan di tempat publik, merugikan orang yang terfoto. Memang selalu muncul celah debat: apa saja yang dianggap ruang privat dan bagaimana dengan kolam renang umum.
  • PELANGGARAN HUKUM. Menurut HAKI, publikasi foto seseorang harus seizin orang yang bersangkutan. Kalau yang terfoto lima orang maka Anda harus mendapatkan izin dari kelima orang itu. Akbar Tandjung bisa menang perkara, membatalkan peredaran sebuah buku berisi kliping kasus korupsi Bulog bukan karena isinya melainkan foto sampul wajahnya pada buku yang tak dimintakan izin terlebih dahulu.
  • RISIKO... Dua soal tadi bisa jadi sandungan bahkan tali gantungan. Minimal cercaan. Itulah sebabnya di sini saya berterima kasih kepada komentator yang menegur "anda ambil foto sembunyi2? wah, dasar pencuri gak tau etika." Persoalannya seberapa siap Anda mempertanggungjawabkan jepretan: dari memberikan penjelasan, meminta maaf, menghapus dari web, bahkan lebih jauh dari itu.

  • Jadi kenapa tidak main jepret saja? Oh jangan memaksakan diri. Kalau Anda lagi malas motret, ya biarkan saja blog tanpa jepretan. Gitu aja kok repot.

    Kalau belum ada kamera? Beli. Mau yang murah? Tunggu sekitar Juli-September nanti pasti banyak diskon. Kuat ngerem nafsu? Tunggu menjelang Lebaran dan Natal.

    Kamera digital kian memurah karena sebagian besar fungsi masinal sudah dioper oleh kepingan elektronik yang diproduksi massal dan dirakit dengan segera. Begitu muncul versi yang lebih maju maka harga kamera model sebelumnya akan anjlok.

    Pada 2001, sebuah Nikon Coolpix 990 berharga Rp 8 juta lebih. Bulan lalu, dari sebuah pameran, dengan Rp 7 juta teman saya bisa mendapatkan "paket untuk pemula": Pentax SLR *ist DL, termasuk lensa 18-55 mm dan 100-300 mm, tas, tripod, topi.

    Bagaimana dengan kamera pada ponsel? Memadai juga untuk ngeblog, termasuk photoblogging. Apalagi ponsel berkamera sekarang memberikan resolusi tinggi dan makin pintar. Tantyo Bangun, pemimpin redaksi National Geographic Indonesia, pernah menunjukkan kepada saya esei foto Stasiun Kota jepretan Nokia N90. Agus Leonardus malah membukukan foto hasil jepretan beberapa model ponsel Nokia. Memang sih, saya belum lihat bukunya, baru mengintip hasilnya dari foto yang dia kirimkan kepada sejawat saya.

    Nah ini yang Anda tunggu: kamera apa yang saya pakai? Itu kamera kuaci anak saya karena dia lagi malas membawanya. Sebuah Canon Powershot A410 yang jarang saya eksplorasi. Saya memakai sekadarnya. Asal klik saja. Setting manual mengikuti anak saya, karena saya diledek, "Bapak nggak nyoba manual? Mau pake auto terus?"

    Mariskova
    April 9, 2006   01:19 AM PDT
     
    Hahaha... Om, ini posting berfaedah bin manfaat banget. Trutama soal snipernya (?).

    Saya juga termasuk blogger yg merasa blom afdol kalow belom pake ilustrasi/foto utk melengkapi tulisan. Apakah itu brarti tulisan saya blom deskriptif shg harus dijelaskan lagi oleh foto???
    *sigh*
    Mbilung
    April 8, 2006   02:30 AM PDT
     
    Kamera kuaci, saya nyebutnya kamera ketendang jadi. Saya bingung kalo pakr kamera yang banyak kenob-nya.
    myr
    April 8, 2006   01:59 AM PDT
     
    anaknya asik tuh :))
    btw semua foto di blog-ku jg pk kamera kuaci kok
    pembaca setia
    April 7, 2006   12:50 PM PDT
     
    teman2 anda tobb n hebat kenapa anda tidak bisa tobb ?
    |


    Leave a Comment:

    Name


    Homepage (optional)


    Comments




    Previous Entry * Home * Next Entry
                 
    © Kéré Kêmplu + BloGombal | Desain sembarangan oleh Masé, Oktober 2005.
    Mohon maaf kepada semua pemilik hak atas karya, dalam bentuk apapun, yang miliknya terangkut ke sini tanpa saya mintai izin dan atau terlewat dalam penyebutan sumber. Jikalau hak Anda terlanggar sudilah memberitahu saya.
                 

    Blogdrive