KALAU ANDA DIKUNTIT. Jangan panik, Hany punya jurus untuk menghadapi.
TURUT MENGUNDANG BOLEH DONG. Tentang pernikahan mereka.
MISOLOGI & MISOSOLOGI. Kalau misology, ada di sini. Sedangkan missosology, ada di sini. Mana yang lebih menghibur dan perlu?
MATIKAN TV! Hari tanpa TV, Minggu 23 Juli besok. Demi anak-anak, katanya.
CERITA GEMPA & TSUNAMI. Pakdhe Rovicky, sang geolog, bisa bercerita banyak...
             
             


Kéré Kêmplu, seorang opas tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tiada mengenal tenggat. Berisi tulisan dangkal, naif, dan membingungkan.




Hit Counter
Hit Counter






JAGAT GOMBAL

  • Tentang saya
  • 6 Alasan ngeblog
  • 4 Alasan gerakan nonblog
  • Gombalabel: bualan seorang pemulung
  • Gombalkartu: dari seseorang yang tidak bisa bermain remi



    KETERSANGKUTAN

  • Pengumpan Sindikasi
  • IndoBlogdrivers
  • Planet Terasi
  • Blogfam
  • Padhang Mbulan
  • Lesehan



    Subscribe with Bloglines








    KABAR BUNGKUSAN

    AKHIRNYA HAMIL | Ternyata ada hubungan antara bungkus roti dan kehamilan. Bermula dari mana, berujung di mana pula? Lihatlah kisahnya.



    KABAR KOCOKAN

    SISA EKSPOR | Bukan cuma pakaian ekspor yang bisa kita beli. Kartu remi ekspor pun begitu. Made in Indonesia, untuk pasar Amerika. Harga eceran US$ 1,75. Kartu lucu dengan gaya coretan tangan.





    powered by FreeFind





    Free Shoutbox







  • If you want to be updated on this weblog Enter your email here:

     
    17.7.06 | 22:28
    Surabaya #2: Catatan Malam Wong Ndesit
    Ada rumah menjadi jembatan penyeberangan...
    "SEPERTI Yogya," saya membatin. Surabaya selewat pukul sembilan malam masih ada cewek naik motor. Dan Sabtu malam adalah tebaran kelompok bersepeda motor, juga klub mobil, di beberapa sudut. Kadang mereka membelah jalanan.

        

    Sejauh saya temui tak ada kelewang terayun dari peserta konvoi untuk meminta orang lain menepi, suatu hal yang pernah terjadi di Yogya, saat [dulu] kolong jok motor beberapa pemuda butek — yang membanggakan kesintingan dan mendambakan kekisruhan — berisikan senjata tajam. Di Surabaya, malam itu, razia polisi hanya memeriksa surat, tanpa perintah membuka jok.

    "Tak seperti Jakarta," saya membatin. Tebaran ranjau pengempis ban motor dan mobil belum saya jumpai di jalan sepi. Tapi sebagai warga Jabotabek saya tetap ndesit, gumun melihat kasir SPBU memakai LCD. Tiga tahun lalu, ketika SPBU Jakarta belum bisa mencetak bon, SPBU di Cikampek sudah lebih dulu bisa.

    "Tak seperti Jakarta," lagi-lagi saya membatin. Beberapa jembatan penyeberangan, bahkan pada malam hari, tak menyeringaikan ancaman. Bahwa bau pesing menguar di sudut, ah... jejak mamalia bernama manusia dari jenis kelamin jantan itu juga ada di beberapa kota negeri maju. Tapi sekadar catatan, di luar soal hajat, kencing sembarangan adalah cara binatang, termasuk anjing, untuk menandai teritori.

    "Bapak orang Jakarta?" tanya sopir taksi. Saya jawab bukan. "Tapi datang dari Jakarta?" dia meralat. Saya meng[i]yakan. Dia geli, karena begitu memakai ponsel saya langsung mengunci ketiga pintu yang tak tersentral itu. Orang Jakarta selalu begitu, katanya.

    Surabaya, dalam persepsi lama saya, adalah kota yang panas dan keras. Dalam beberapa urusan terbukti, tapi dalam urusan lainnya selalu terbantahkan. Keterusterangan, keblakblakan, dan egalitarianisme, adalah satu hal. Kekerasan adalah hal lain, tergantung kasusnya.

    Itulah kultur arek sejauh saya tangkap. Di Jawa ada satu-dua kota yang premannya bertutur kata halus. Sedikit bicara banyak tikam, kata teman saya. Santun di mulut, bengis di tindakan.

        

    Surabaya adalah kepercayaan diri. Di pelataran sebuah mal kelas menengah, kesan selintas saya menangkap sebuah keceriaan dari mereka yang hanya datang untuk bercengkerama di luar karena ongkos dimsum maupun ngopi di dalam mal melebihi takaran upah minimun regional. Ya, di mal yang gerbang baratnya mengingatkan pada film kungfu, karena ada logo besar beladiri dengan tulisan [latin] vertikal pada kedua pilar.

    Tak ada buang muka atau niat berlindung di balik bayang temaram untuk menutup malu karena tak sanggup menikmati sajian di dalam. Mal, plaza, atau apapun namanya, telah menjalankan fungsinya sebagai ruang publik untuk semua orang, termasuk berekreasi tanpa berbelanja dan tanpa mengudap dim sum.

    Eh, ruang publik? Sepenggal trotoar pernah terlihat ramai, karena pelintas ingin melengok pentas jazz di sebuah tempat yang menamakan diri sidewalk cafe. Malam berikutnya tiada pelongok dari luar pagar, padahal band dengan funky thumb bassist sedang sebisanya mengemas ulang Superstition Stevie Wonder, tapi brass section cukup digantikan oleh synthesizer. Yang gratis belum tentu menarik.

        

    Di sisi lain, yang enak dan nyaman belum tentu mahal. Kedai 24 jam di sudut Stasiun Gubeng sajikan nasi krèngsèngan, ayam penyet, dan lainnya. Harga makanan mulai Rp 6.000-an. Setiap hari pelayannya berganti seragam yang ditaja pabrik rokok berlainan merek. Anak muda, orang tua, dan keluarga dengan bocah, silih berganti mengudap. Pada jam tertentu tukang parkirnya adalah seorang ibu.

    Kembali ke jembatan penyeberangan di tengah kota. Malam itu dua sejoli aman-aman saja berdempetan sambil bermain ponsel. Tanpa gangguan dari pemalak, selain orang tak tahu diri yang enak saja mendekat dan memotreti. Fotografi gombal, kadang, juga berarti kekurangajaran.

    Jembatan penyeberangan yang kokoh dan bersih. Tukang rokok menjadikan kolongnya yang berpintu jeruji sebagai ruang keluarga dengan TV menyala. Dia juga yang mesti mengguyur pipisan pesing saban malam. Saya tak tahu apakah fitur koran setempat pernah menceritakan kehidupan di bawah jembatan penyeberangan, tak jauh dari Gedung Grahadi itu.

         

    NB: mohon pemakluman untuk foto-foto kabur dan fokus yang salah — gak usah protes, cak!

    coffee aficionado
    July 19, 2006   07:33 PM PDT
     
    wow.. kupinya cantik banget yak..
    buzz
    July 19, 2006   06:32 PM PDT
     
    kesan pertama di surabaya ya cium bau selokan nya wuaah... sip buat hidung.. dan orang2 yang terbuka dan gampang akrab..utk mbak tintin: bandara juanda itu di sidoarjo bukan di surabaya:D
    tintin
    July 19, 2006   05:14 PM PDT
     
    wah memang bau pesing ada di mana-mana pak. tapi yang paling aku ingat bau pesing di bandara djuanda... mirip stasiun gambir.
    hem, pertama kali ke surabaya sendirian, sampe sana bingung mau jalan kemana, akhirnya keliling-keliling bareng tukang becak, ngomongnya jawatimuran cenderung madura, teriak-teriak, gaya yang menyenangkan. bikin betah duduk di becak yang tanpa tudung kalo malem, aku yang tadinya mesem-mesem lantaran jadi tontonan orang-orang pinggir jalan, lama-lama cuek bebek ngobrol mulai dari kampung doli sampe cinta sejati, disambi potret sana-potret sini, sampe dikira wartawan. walah kangen je, kapan-kapan kalo ke TP minta anter keliling-keliling lagi, kali nanti coba ke doli kali yah... (^.^)
    lenje
    July 19, 2006   04:37 PM PDT
     
    Horeeeeeeeee... SURABAYAAAAAAAA!!!!


    *Hiks.. kuangen Surabaya!*
    Hedi
    July 18, 2006   09:52 PM PDT
     
    saya pernah ketemu preman terminal di madiun, halus banget, nunjukkan jalan aja pake jempol spt org jawa bener...
    ipoul_bangsari
    July 18, 2006   09:08 AM PDT
     
    jalan-jalan terus gan?
    fahmi jelek
    July 18, 2006   02:30 AM PDT
     
    wah... ternyata sempat mampir liat kapal selam toh? dapet motret orang pacaran nggak? hihihi :D
    |


    Leave a Comment:

    Name


    Homepage (optional)


    Comments




    Previous Entry * Home * Next Entry
                 
    © Kéré Kêmplu + BloGombal | Desain sembarangan oleh Masé, Oktober 2005.
    Mohon maaf kepada semua pemilik hak atas karya, dalam bentuk apapun, yang miliknya terangkut ke sini tanpa saya mintai izin dan atau terlewat dalam penyebutan sumber. Jikalau hak Anda terlanggar sudilah memberitahu saya.
                 

    Blogdrive